<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>BanyuSubhan</title>
	<atom:link href="http://banyusubhan.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://banyusubhan.wordpress.com</link>
	<description>Banyu sumber kehidupan</description>
	<lastBuildDate>Sat, 30 May 2009 05:41:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='banyusubhan.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/a448d2d9ee8d97427e0d4a3278d3b5be?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>BanyuSubhan</title>
		<link>http://banyusubhan.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://banyusubhan.wordpress.com/osd.xml" title="BanyuSubhan" />
	<atom:link rel='hub' href='http://banyusubhan.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>CINTA itu BUTUH KESABARAN&#8230;</title>
		<link>http://banyusubhan.wordpress.com/2009/05/30/cinta-itu-butuh-kesabaran/</link>
		<comments>http://banyusubhan.wordpress.com/2009/05/30/cinta-itu-butuh-kesabaran/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 30 May 2009 05:39:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>banyusubhan</dc:creator>
				<category><![CDATA[BanyuSubhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyusubhan.wordpress.com/?p=123</guid>
		<description><![CDATA[Sampai dimanakah kita harus bersabar menanti cinta kita ??? ************ ********* ********* ********* ********* ********* ** Hari itu,,,aku dengan nya berkomitmen untuk menjaga cinta kita.. Aku menjadi perempuan yg paling bahagia&#8230;.. . Pernikahan kami sederhana tapi sangat meriah&#8230;&#8230; Ia menjadi pria yang sangat romantisan pada waktu itu. Menikah dengan seorang pria yang shaleh, pintar, tampan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=banyusubhan.wordpress.com&amp;blog=5481863&amp;post=123&amp;subd=banyusubhan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sampai dimanakah kita harus bersabar menanti cinta kita ???</p>
<p>************ ********* ********* ********* ********* ********* **</p>
<p>Hari itu,,,aku dengan nya berkomitmen untuk menjaga cinta kita..</p>
<p>Aku menjadi perempuan yg paling bahagia&#8230;.. .</p>
<p>Pernikahan kami sederhana tapi sangat meriah&#8230;&#8230;</p>
<p>Ia menjadi pria yang sangat romantisan pada waktu itu.</p>
<p>Menikah dengan seorang pria yang shaleh, pintar, tampan &amp; mapan pula</p>
<p>Ketika kami pacaran dia sudah sukses dalam karir nya.</p>
<p>Kami berbulan madu di tanah suci,,itu janjinya ketika kami berpacaran</p>
<p>Setelah menikah aku mengajaknya untuk umroh ke tanah suci&#8230;.</p>
<p>Aku sangat bahagia dengan nya,,diya sangat memanjakan aku&#8230;. Sangat<br />
terlihat rasa cinta dan sayangnya pada ku..</p>
<p>Banyak orang yang bilang,kami pasangan yang serasi. Sangat terlihat<br />
sekali bagaimana suamiku memanjakanku. Aku bahagia menikah dengannya.<br />
************ ********* ********* ********* ********* ********* *********</p>
<p>********* *******</p>
<p>5 Tahun sudah kami menikah, sangat tak terasa waktu berjalan, walaupun<br />
kami hanya berdua saja.<br />
Karena sampai saat ini aku belum bisa memberikannya seorang malaikat<br />
kecil di tengah keharmonisan rumah tangga kami.<br />
Karena dia anak lelaki satu &#8211; satunya dalam keluarga nya,,jadi aku harus<br />
berusaha untuk dapat meneruskan generasi nya&#8230;<br />
Alhamdulillah suamiku mendukung ku&#8230;. Ia mengaggap Allah belum<br />
mempercayai kami untuk menjaga titipan NYA.<br />
Tapi keluarga nya mulai resah,, Dari awal kami menikah ibu &amp; adiknya<br />
tidak menyukaiku,, aku sering mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan<br />
dari mereka,,tapi aku menutupi dari suami ku&#8230;&#8230;</p>
<p>didepan suami ku,,mereka sangat baik pada ku,,tapi dibelakang suami<br />
ku,,aku dihina &#8211; hina oleh mereka&#8230;<br />
Pernah suatu ketika, 1 tahun usia pernikahan kami, suamiku mengalami<br />
kecelakaan,, , mobilnya hancur</p>
<p>Alhamdulillah suami ku selamat dari maut yang hampir membuat ku menjadi<br />
seorang janda.<br />
Ia dirawat dirumah sakit,,pada saat dia belum sadarkan diri,,aku selalu<br />
menemaninya siang &amp; malam, kubacakan ayat &#8211; ayat suci Al &#8211; Qur&#8217;an,aku<br />
sibuk bolak &#8211; balik rumah sakit dan tempat aku melakukan aktivitas<br />
sosialku, aku sibuk mengurus suamiku yang sakit karean kecelakaan.</p>
<p>Ketika aku  kembali ke rumah sakit setelah dari rumah kami,,aku melihat<br />
didalam kamarnya ada ibu, adik &#8211; adiknya dan teman &#8211; teman suamiku, dan<br />
satu lagi aku melilhat seorang wanita yg sangat akrab dengan ibunya.<br />
Mereka tertawa menghibur suamiku.<br />
Alhamdulillah suamiku ternyata sudah sadar, aku menangis ketika melihat<br />
suami ku sudah sadar,,tapi aku tak boleh sedih di depannya.<br />
Kubuka pintu yg tertutup rapat itu,sambil mengatakan &#8220;Assalammu&#8217;alaikum&#8221;</p>
<p>mereka menjawab salam ku. Aku berdiam sejenak di depan pintu dan mereka<br />
semua melihatku,,, suamiku menatapku penuh manja,,mungkin ia kangen<br />
padaku karena sudah 5 hari mata nya selalu tertutup. Tangannya<br />
melambai,,mengisyar atkan aku untuk memegang tangannya yg erat. Setelah<br />
aku menghampirinya, ku cium tangannya sambil berkata<br />
&#8220;Assalammu&#8217;alaikum&#8221;, ia pun menjawab salam ku dengan suaranya yg lirih<br />
tapi penuh dengan cinta.<br />
Aku pun senyum melihat wajahnya.<br />
Ibu nya lalu berbicara sama aku &#8230;</p>
<p>&#8220;Fis, kenalakan ini Desi teman Fikri&#8221;</p>
<p>Aku teringat cerita dari suamiku bahwa teman baiknya pernah<br />
mencintainya, perempuan itu bernama Desi, dan diya sangat akrab dengan<br />
keluarga suamiku. Dan akhirnya aku bertemu dengan orangnya juga.</p>
<p>Aku pun langsung berjabat tangan dengannya, tak banyak aku biacara di<br />
dalam ruangan,,aku tak mengerti apa yg mereka bicarakan.<br />
Aku sibuk membersihkan &amp; mengobati luka &#8211; luka di kepala suamiku,,,baru<br />
sebentar aku membersihkan mukanya,,tiba &#8211; tiba adik ipar ku yg bernama<br />
Dian mengajakku keluar,ia minta ditemani ke kantin. Dan suamiku pun<br />
mengijinkannya. Aku pun menemaninya.</p>
<p>Tapi ketika di luar adik ipar ku berkata &#8221; lebih baik kau pulang saja &#8220;<br />
Ada kami yg menjaga abang disini. Kau istirahat saja. &#8220;<br />
Aku pun tak diperbolehkan berpamitan dengan suamiku dengan alasan abang<br />
harus banyak beristirahat, karena sikologisnya masih labil,, Aku<br />
berdebat dengannya mengapa aku tidak boleh pamitan pada suamiku, tapi<br />
tiba &#8211; tiba ibu mertuaku datang menghampiriku dan ia mengatakan hal yg<br />
sama, ia akan memberi alsan pada suamiku mengapa aku pulang tak pamitan<br />
pada nya, toj suamiku selalu menurut apa kata ibunya, baik ibunya salah<br />
suamiku tetap saja membenarkannya, akhirnya aku pun pergi meninggalkan<br />
rumah sakit itu dengan linangan air mata. Sejak saat itu aku tidak<br />
pernah diijinkan menjenguk suamiku sampai ia kembali dari rumah sakit.<br />
Dan aku hanya bisa menangis dlm kesendirianku. Menangis mengapa mereka<br />
sangat membenciku.<br />
************ ********* ********* ********* ********* ********* *********</p>
<p>********* *******</p>
<p>Hari itu, aku menangis tanpa sebab, yang ada di benakku aku takut<br />
kehilangannya, aku takut cintanya  dibagi denagn yang lain.  Pagi itu,<br />
pada</p>
<p>saat aku membersihakn pekarang rumah kami, suamiku memanggil ku ke taman<br />
belakang, ia baru aja selesai sarapan, ia mengajakku duduk di ayunan<br />
favorit kami, sambil melihat ikan &#8211; ikan yang bertaburan di kolam air<br />
mancur itu.<br />
Aku bertanya &#8221; Ada apa kamu memanggil ku ?&#8221;</p>
<p>Ia berkata &#8221; Besok aku akan menjenguk keluargaku di Sabang &#8220;<br />
Aku menjawab &#8221; Ia sayang aku tahu, aku sudah mengemasi barang &#8211; barang<br />
kamu di travel bag dan kamu sudah pegang tiket bukan ?&#8221;<br />
&#8220;Ya tapi aku tak akan lama disana, cuma 3 minggu aku disana, aku juga<br />
sdh lama tidak bertemu dengan keluarga besarku sejak kita menikah dan<br />
aku kan pulang dengan mama ku &#8221; Jawab nya tegas</p>
<p>&#8220;Mengapa baru bicara, aku pikir hanya seminggu saja kamu disana ?&#8221; tanya<br />
ku balik kepada nya penuh dengan rasa penasaran dan sedikit rasa kecewa<br />
karena ia baru memberitahu rencana kepulanggannya itu, padahal aku<br />
bersusah payah mencarikan tiket pesawat untuknya.<br />
&#8221; Mama minta aku yang menemani nya saat pulang nanti &#8221; jawab nya tegas</p>
<p>&#8221; Sekarang aku ingin seharian dengan kamu, karena nanti kita 3 minggu<br />
tidak bertemu, ya kan ?&#8221; lanjut nya lagi sambil memeluk ku dan mencium<br />
keningku.. Hatiku sedih, dengan keputusannya, tapi tak boleh aku<br />
tunjukkan pada nya.<br />
Bahagianya aku, dimanja dengan suami yang penuh dengan rasa sayang &amp;<br />
cintanya.</p>
<p>Walau terkadang ia bersikap kurang adil terhadapku.</p>
<p>Aku hanya bisa tersenyum saja, padahal aku ingin bersama suamiku, tapi<br />
karena keluarga nya tidak menyukaiku hanya karena mereka cemburu pada ku<br />
karena suamiku sangat sayang pada ku, aku memutuskan agar ia saja yg<br />
pergi, dan kami juga harus berhemat dalam pengeluaran anggaran rumah<br />
tangga kami.</p>
<p>Karena ini acara sakral bagi keluarganya. Jadi seluruh keluarga nya<br />
harus komplit, aku pun tak diperdulikan oleh keluarganya harus datang<br />
atau tidak, tidak hadir justru membuat mereka sangat senang, aku pun tak<br />
mau membuat riuh keluarga ini.<br />
Malam sebelum kepergiannya, aku menangis sambil membereskan keperluannya<br />
yang akan dibawa ke Sabang, ia menatapku dan menghapus airmata yang<br />
jatuh dipipiku lalu aku peluk erat dirinya, hati ini bergumam seakan<br />
terjadi sesuatu,,tapi aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku hanya<br />
bisa</p>
<p>menangis karena akan ditinggal pergi olehnya.</p>
<p>Aku tidak pernah di tinggal pergi selama ini, karena kami selalu bersama<br />
- sama kemana pun ia pergi.<br />
Apa mungkin aku sedih karena aku sendirian tidak punya teman, hanya<br />
pembantu saja teman ngobrolku.</p>
<p>Hati ini sedih akan di tinggal pergi oleh nya.</p>
<p>Sampai keesokan hari nya, aku menangis..menangisi kepergiannya.</p>
<p>Aku tak tahu mengapa sesedih ini, perasaanku tak enak, tapi aku tak<br />
boleh berburuk sangka. Aku harus percaya apada suamiku. Dia pasti akan<br />
selalu menelpon ku.</p>
<p>************ ********* ********* ********* ********* ********* *********</p>
<p>********* ********* ********</p>
<p>Berjauhan dengan suamiku, sangat tidak nyaman, aku merasa sendiri.<br />
Untunglah aku mempunyai kesibukan sebagai seorang aktivis, jadi aku tak</p>
<p>terlalu kesepian di tinggal pergi ke Sabang.</p>
<p>Saat kami berhubungan jarak jauh, komunikasi kami buruk,saat ia di sana<br />
aku pun jatuh sakit&#8230;rahimku sakit sekali seperti dililit oleh<br />
tali,,,tak tahan aku menhan rasa sakit dirahimku ini,sampai &#8211; sampai aku<br />
mengalami pendarahan,, aku dilarikan ke rumah sakit oleh adik laki -<br />
lakiku yang kebetulan menemaniku disana. Dokter memvonis aku terkena<br />
kanker mulut rahim stdium 3&#8230;. Aku menangis,,apa yang bisa aku<br />
banggakan lagi,,mertuaku akan semakin menghinaku,, ,suami ku yang malang<br />
,,yang berharap akan punya keturunan dari rahimku&#8230; Aku tak bisa<br />
memberikannya</p>
<p>keturunan. Dan aku hanya memeluk adikku.</p>
<p>Aku kangen pada suamiku, aku menunggu ia pulang,,kapan ia pulang, aku<br />
tak tahu..<br />
Sementara suamiku disana,,aku tidak tahu mengapa ia selalu marah &#8211; marah<br />
jika menelponku,, bagaimana aku akan cerita kondisiku jika ia selalu<br />
marah &#8211; marah terhadapku,,</p>
<p>Lebih baik aku tutupi dulu,,dan aku juga tak mau membuatnya khawatir<br />
selama ia berada di Sabang.<br />
Lebih baik nanti saja ketika ia sudah pulang dari Sabang, aku akan<br />
cerita pada nya.<br />
Setiap hari aku menanti suami ku pulang, hari demi hari aku hitung&#8230;.</p>
<p>Sudah 3 minggu suamiku di Sabang, malam itu ketika aku sedang melihat<br />
foto<br />
- f oto kami, ponselku berbunyi, menandakan ada sms yang masuk.<br />
Ku buka di inbox ponselku, ternayta dari suamiku yang sms, ia menulis<br />
&#8220;aku sudah beli tiket untuk pulang, aku pulang nya satu hari lagi, aku<br />
aku kabarin lagi&#8221;.</p>
<p>Hanya itu saja yang diinfokannya, aku ingin marah, tapi aku pendam saja<br />
ego yang tidak baik ini. Hari yg aku tunggu pun tiba,,aku menantinya di<br />
rumah. Sebagai seorang istri, aku pun berdandan yang cantik dan memakai<br />
parfum kesukaannya untuk menyambut suamiku pulang, dan aku akan<br />
menyelesaikan masalah komunikasi kami yg buruk akhir &#8211; akhir ini.</p>
<p>Bel pun berbunyi, kubuka kan pintu untuknya ia pun mengucap salam,<br />
sebelum masuk aku pegang tangannya ke depan teras, ia tetap berdiri, aku<br />
membungkuk untuk melepaskan sepatu, kaos kaki dan ku cuci kedua kakinya,<br />
aku tak mw ada syaithan yang masuk ke dalam rumah kami, setelah itu aku<br />
pun berdiri langsung mencium tangannya tapi apa reaksi nya &#8230;</p>
<p>Masya Allah ia tidak mencium keningku, ia langsung naik keatas, ia<br />
langsung mandi dan tidur,tanpa bertanya kabarku..<br />
Aku hanya berpikiran, mungkin dia capek. Aku pun segera merapikan bawaan<br />
nya sampai aku pun tertidur. Malam menunjukkan 1/3 malam, mengingatkan<br />
aku pada tempat  mengadu yaitu Allah, Sang Maha Pencipta.</p>
<p>Biasa nya kami selalu berjama&#8217;ah, tapi karena melihat nya tidur sangat<br />
pulas, aku tak tega membangun kannya, aku helus mukanya, aku cium kening<br />
nya, lalu aku sholat  tahajud 8 rakaat plus witir 3 raka&#8217;at.</p>
<p>************ ********* ********* ********* ********* ********* *********</p>
<p>********* ********* ***</p>
<p>Aku mendengar suara mobinya, aku terbangun lalu aku liat dia dari balkon<br />
kamar kami dia bersiap &#8211; siap untuk pergi, aku memanggil nya tapi ia tak<br />
mendengar, lalu aku langsung ambil jilbabku, aku lari dari atas ke bawah<br />
tanpa memperdulikan darah yg bercecer dari rahimku, aku mengejarnya tapi<br />
ia begitu cepat pergi,,ada apa dengan suamiku&#8230;mengapa ia sangat aneh<br />
terhadapku ?<br />
Aku tidak bisa diam begitu saja firasatku ada sesuatu.</p>
<p>Saat itu juga aku langsung menelpon kerumah mertuaku, kebetulan Dian<br />
yang angkat telpon nya, aku bercerita dan aku bertanya apa yang terjadi<br />
dengan suamiku. Dengan enteng ia menjawab &#8220;Loe pikir aja sendiri !!!&#8221;<br />
telpon pun langsung terputus.<br />
Ada apa ini ? Tanya hatiku penuh dalam kecemasan. Mengapa suamiku<br />
berubah setelah ia pulang dari kota kelahirannya. Mengapa ia tak mau<br />
berbicara padaku, apalagi memanjakan ku.</p>
<p>Semakin hari ia menjadi orang yang pendiam, seakan ia telah melepas<br />
tanggung jawabnya sebagai seorang suami, kami berbicara seperlunya saja,<br />
aku selalu di introgasinya, aku dari mana dan mengapa pulang terlambat,<br />
ia bertanya denagn nada yg keras, suamiku telah berubah.<br />
Bahkan yang membuat ku kaget, aku pernah di tuduh nya berzina dengan<br />
mantan pacarku. Ingin rasanya aku menampar suamiku yang telah menuduhku<br />
serendah itu, tapi aku selalu ingat, sebagaimana pun salahnya seorang<br />
suami, status suami tetap di atas para istri, itu yang aku pegang, aku</p>
<p>hanya berdo&#8217;a agar suamiku sadar akan prilakunya. *******</p>
<p>2 Tahun berlalu, suamiku tak berubah juga, aku menangis tiap malam,<br />
lelah menanti seperti ini, kami seperti orang asing yang baru saja<br />
kenal, kemesraan yang kami ciptakan dulu telah sirna, walaupun<br />
kondisinya tetap seperti itu, aku tetap merawatnya &amp; menyiapi segala<br />
yang ia perlukan.<br />
Penyakitku pun masih aku simpan dengan baik dan ia tak pernah bertanya<br />
obat apa yang aku minum. Kebahagiaan ku telah sirna, harapan menjadi ibu<br />
pun telah aku pendam. Aku tak tahu kapan ini semua akan berakhir.</p>
<p>Bersyukurlah, aku punya penghasilan sendiri dari aktifitasku sebagai<br />
seorang guru ngaji jadi aku tak perlu repot &#8211; repot meminta uang pada<br />
nya</p>
<p>hanya untuk pengobatan kankerku. Aku pun hanya berobat semampuku.</p>
<p>Sungguh suami yang dulu aku puja, aku banggakan sekarang telah menjadi<br />
orang asing, setiap aku tanya ia selalu meyuruhku untuk berpikir<br />
sendiri.<br />
Tiba &#8211; tiba saja malam itu, setelah makan malam selesai, suamiku<br />
memanggilku.</p>
<p>&#8220;ya ada apa Yah !&#8221; sahutku dengan memanggil nama kesayangannya &#8220;Ayah&#8221;</p>
<p>&#8220;Lusa kita siap &#8211; siap ke Sabang ya !&#8221; Jawabnya tegas</p>
<p>&#8221; Ada apa ?&#8221; Mengapa ?&#8221; sahutku penuh dengan keheranan</p>
<p>Astaghfirullah. ..suami ku yang dulu lembut menjadi kasar, diya<br />
mebentakku,, tak ada lagi diskusi anatara kami.<br />
Dia mengatakan &#8221; Kau ikut saja jgn byk tanya !!! &#8220;</p>
<p>Aku pun lalu mengemasi barang &#8211; barang yang akan dibawa ke Sabang sambil<br />
menangis,sedih karena suamiku yang tak ku kenal lagi.<br />
2 Tahun pacaran, 5 tahun kami menikah dan sudah 2 tahun pula ia menjadi<br />
orang asing buat ku. Ku lihat kamar kami yg dulu hangat penuh cinta yang<br />
dihiasi foto pernikahan kami sekarang menjadi dingin, sangat dingin dari<br />
batu es. Aku menangis dengan kebingungan ini. Ingin rasanya aku berontak<br />
tapi aku tak bisa, suamiku tak suka dengan wanita yang kasar, ngomong<br />
dengan nada tinggi, suka membanting barang &#8211; barang, dia bilang<br />
perbuatan itu menunjukkan ketidakhormatan kedapanya. Aku hanya bisa<br />
bersabar menantinya bicara dan sabar mengobati penyakitku ini sendiri.</p>
<p>************ ********* ********* ********* ********* ********* *********</p>
<p>********* ********* ********* *********</p>
<p>Kami telah sampai di Sabang, aku masih merasa lelah karena semalaman aku<br />
tidak tidur, karena terus berpikir. Keluarga besar nya telah berkumpul<br />
disana, termasuk ibu &amp; adik &#8211; adiknya, aku tidak tahu ada acara apa<br />
ini..<br />
Aku dan suamiku pun masuk ke kamar kami. Suamiku tak betah didalam kamar<br />
tua itu, ia pun keluar bergabung dengan keluarga besarnya.</p>
<p>Baru saja aku membongkar koper kami dan ingin memasukkannya ke dlm<br />
lemari tua yg berada di dekat pintu kamar, lemari tua itu telah ada<br />
sebelum suamiku lahir.</p>
<p>Tiba &#8211; tiba Tante Lia, tante yang sangat baik pada ku memanggil ku untuk<br />
segera berkumpul diruang tangah, aku pun ke ruang keluarga yag berada di<br />
tengah rumah besar itu, rumah zaman peninggalan belanda diaman langit -<br />
langit nya lebih dari 4 meter. aku duduk disamping suamiku, suamiku<br />
menunduk penuh dengan kebisuan, aku tak berani bertanya pada nya, tiba -<br />
tiba saja neneknya, orang yang dianggap paling tua dan paling berhak<br />
atas semuanya membuka pembicaraan.</p>
<p>&#8220;Baiklah,karena kalian telah berkumpul, nenek ingin bicara dengan kau<br />
Fisha ! &#8221; Nenek nya bicara sangat tegas.. Dengan sorot mata yang tajam.<br />
&#8221; Ada apa ya Nek ?&#8221; sahutku dengan penuh tanya..</p>
<p>Nenek pun menjawab &#8221; Kau telah gabung dengan keluarga kami hampir 8<br />
tahun, sampai saat ini kami tak melihat tanda &#8211; tanda kehamilan yang<br />
sempurna, sebab selama ini kau selalu keguguran !!&#8217;</p>
<p>Aku menangis, untuk inikah aku diundang ke mari, untuk dihina atau di<br />
pisahkan dengan suamiku.</p>
<p>&#8220;Sebenarnya kami sudah punya calon untuk Fikri, dari dulu, sebelum kau<br />
menikah dengannya, tapi Fikri anak yang keras kepala, tak mau di atur,<br />
dan akhirnya menikahlah ia dengaa kau.&#8221; Neneknya berbicara sangat<br />
lantang, mungkin logat orang Sabang seperti itu semua.<br />
Aku hanya bisa tersenyum dan melihat wajah suamiku yang kosong matanya.</p>
<p>&#8220;Dan aku dengar dari ibu mertua mu kau pun sudah berkenalan dengannya&#8221;<br />
Neneknya masih melanjutkan pembicaraan itu.<br />
Sedangkan suamikku hanya diam saja, tapi aku lihat air matanya. Ingin<br />
aku peluk suamiku agar ia kuat dengan semua ini, tapi aku tak punya<br />
keberanian..</p>
<p>Nenek nya masih saja berbicara panjang lebar dan yang terakhir dari<br />
pembicaraannya ialah dengan wajah yang sangat menantang ia berkata &#8221; kau<br />
mau nya gimana ? kau di madu atau diceraikan ?&#8221;</p>
<p>Masya Allah&#8230;&#8230; kuat kan hati ini, aku ingin jatuh pingsan, hati ini<br />
seakan remuk mendengar nya, hancur hati ku, mengapa keluarganya bersikap<br />
seperti ini terhadapku..</p>
<p>Aku selalu munutupi masalah ini dari kedua orang tuaku yang tinggal di<br />
pulau kayu tersebut, mereka mengira aku sangat bahagia 2 tahun<br />
belakangan ini.</p>
<p>&#8220;Fish, jawab !! &#8221; Dengan tegas Ibunya langsung memintaku untuk menjawab</p>
<p>Aku langsung memegang tangan suamiku, dengan tangan yang dingin dan<br />
gemetar aku menjawab dengan tegas&#8230;&#8230;. ..<br />
&#8221; Walaupun aku tidak bisa berdiskusi dulu dengan imamku, tapi aku dapat<br />
berdiskusi dengannya melalui bathiniah, untuk kebaikan dan masa depan<br />
keluarga ini, aku akan menyambut baik seorang wanita baru dirumah kami.&#8221;</p>
<p>Itu yang aku jawab, dengan kata lain aku rela cinta ku di bagi, pada<br />
saat itu juga suami ku memandangku dengan tetesan air mata, tapi mata ku<br />
tak sedikit pun menetes di hadapan mereka.</p>
<p>Aku lalu bertanya kepada suami ku, &#8220;Ayah siapakah yang akan menjadi<br />
sahabat ku dirumah kita nanti Yah ? &#8220;<br />
Suamiku menjawab &#8221; Dia Desi ! &#8220;</p>
<p>Aku pun langsung menarik napas dan langsung berbicara &#8221; Kapan pernikahan<br />
nya berlangsung ? Apa yang harus saya siapkan dalam pernikahan ini Nek<br />
?&#8221;</p>
<p>Ayah mertuaku menjawab &#8220;Pernikahannya 2 minggu lagi.&#8221;</p>
<p>&#8221; Baiklah kalo begitu saya akan menelpon pembantu di rumah, untuk<br />
menyuruh nya mengurus KK kami ke kelurahan besok&#8221; setelah berbicara<br />
seperti itu aku permisi untuk pamit ke kamar.</p>
<p>Tak tahan lagi, air mata ini akan turun, aku berjalan sangat cepat, aku<br />
buka pintu kamar, aku langsung duduk di tempat tidur. Ingin berteriak,<br />
tapi aku sendiri disini. Tak kuat rasanya menerima hal ini, cintaku<br />
telah dibagi,,sakit. ..diiringi akutnya penyakitku. Apakah karena ini<br />
suamiku menjadi orang yang asing selama 2 tahun belakangan ini ?</p>
<p>Aku berjalan menuju ke meja rias, ku buka jilbabku, aku bercermin sudah<br />
tidak cantikkah aku ini, ku ambil sisirku, aku menyisiri rambutku yang<br />
setiap hari rontok, ku lihat wajahku,,ternyata aku memang sudah tidak<br />
cantik lagi, rambutku sudah hampir habis, kepalaku sudah botak dibagian<br />
tengahnya.</p>
<p>Tiba &#8211; tiba pintu kamar ini terbuka, ternyata suami ku datang, ia<br />
berdiri dibelakangku, ,tak kuhapus air mata ini aku langsung<br />
memandangnya dari cermin meja rias itu.</p>
<p>Kami diam sejenak, lalu aku mulai pembicaraan &#8220;terimah kasih ayah, kamu<br />
memberi sahabat kepada ku, jadi aku tak perlu sedih lagi saat ditinggal<br />
pergi kamu nanti ! iya kan ?&#8221;</p>
<p>Suami ku mengangguk sambil melihat kepalaku tapi tak sedikitpun ia<br />
tersenyum dan bertanya knp rambutku rontok, dia hanya mengatakan jangan<br />
salah memakai shampo, dalam hati ku mengapa ia sangat cuek ? ia sudah<br />
tak memanjakan ku lagi.. Lalu dia bilang bilang &#8220;sudah malam, kita<br />
istirahat yuk &#8221; !</p>
<p>&#8220;Aku sholat isya dulu baru aku tidur&#8221; jawab ku tenaang.</p>
<p>Dalam sholat, dalam tidur aku menangis, ku hitung waktu, kapan aku akan<br />
berbagi suami dengannya. Aku pun ikut sibuk mengurusi pernikahan<br />
suamiku.<br />
Aku tak tahu kalo Desi orang Sabang juga. Sudahlah ini mungkin takdirku.</p>
<p>Aku ingin suamiku kembali seperti dulu, yang sangat memanjakan aku,<br />
diamana rasa sayang dan cintanya itu.</p>
<p>************ ********* ********* ********* ********* ********* *********</p>
<p>***</p>
<p>Malam sebelum hari pernikahan suamiku, aku menulis curahan hatiku di<br />
laptopku.</p>
<p>Di laptop aku menulis saat &#8211; saat terakhirku melihat suamiku, aku marah<br />
pada suamiku yang telah menelantarkanku. Aku menangis melihat suamiku<br />
yang tidur pulas, apa salahku sampai ia berlaku kejam kepada ku. Aku<br />
save di my document yang bertitle &#8220;Aku mencintaimu Suamiku &#8220;<br />
Hari pernikahan telah tiba, aku telah siap, tapi aku tak sanggup untuk<br />
keluar, aku berdiri didekat jendela, aku melihat matahari, mungkin aku<br />
takkan bisa melihat sinarnya lagi. Aku berdiri sangat lama,, lalu<br />
suamiku yang telah siap dengan pakaian pengantinnya masuk dan berbicara<br />
padaku.<br />
&#8220;Apakah kamu sudah siap ?&#8221;</p>
<p>Kuhapus airmata yang menetes diwajahku sambil berkata :</p>
<p>&#8220;Nanti jika ia telah sah jadi istrimu, ketika kamu membawa ia masuk ke<br />
dalam rumah ini, cucilah kaki nya sebagaimana kamu mencuci kaki ku dulu,<br />
lalu ketika kalian masuk ke dalam kamar pengantin bacakan do&#8217;a di ubun -<br />
ubunya sebagaimana yang kamu lakukan pada ku dulu lalu setelah itu&#8230;..&#8221;</p>
<p>tak sanggup aku ingin meneruskan pembicaraan ini, aku ingin menagis<br />
meledak</p>
<p>Tiba &#8211; tiba suamiku menjawab &#8220;lalu apa Bunda ?&#8221;</p>
<p>Aku kaget mendengar kata itu, yang tadinya aku menunduk,aku langsung<br />
menatapnya dengan mata yang berbinar &#8211; binar&#8230;</p>
<p>&#8220;bisa kamu ulangi apa yang kamu ucapkan barusan ?&#8221; pinta ku tuk<br />
menyakini bahwa kuping ini tidak salah mendengar.<br />
Dia mengangguk dan berkata &#8221; Baik bunda akan ayah ulangi, lalu apa bunda<br />
?&#8221;<br />
sambil ia menghelus wajah dan menghapus airmataku, dia agak sidikit<br />
membungkuk karena diya sangat tinggi, aku hanya sedada nya saja..</p>
<p>Dia tersenyum, sambil berkata &#8221; Kita liat saja nanti ya !&#8221; dia memelukku<br />
dan berkata, &#8220;bunda adalah wanita yang paling kuat yang ayah temui<br />
selain mama&#8221; lalu ia mencium keningku, aku langsung memeluk nya erat dan<br />
berkata &#8221; Ayah, apakah ini akan segera berakhir ? Ayah kemana saja ?<br />
Mengapa ayah berubah ? Aku kangen sama ayah ? Aku kangen belaian kasih<br />
sayang ayah ? Aku kangen dengan manjanya ayah ? Aku kesepian ayah ? Dan<br />
satu hal lagi yang harus ayah tau bahwa aku tidak pernah berzinah ! Dulu<br />
waktu awal kita pacaran,aku memang belum bisa melupakannya, setelah 4<br />
bulan bersama ayah baru bisa aku terima, jika yang dihadapanku itu<br />
adalah lelaki yang aku cari.&#8221; Bukan bearti aku pernah berzina ayah. Aku<br />
langsung bersujud di kakinya dan muncium kaki imamku sambil berkata &#8220;<br />
Aku minta maaf ayah telah membuatmu susah&#8221;<br />
Saat itu juga, diangkatnya badanku,ia hanya menangis.</p>
<p>Ia memelukku sangat lama, 2 tahun aku menanti dirinya kembali.</p>
<p>Tiba &#8211; tiba perutku sakit, ia menyadari bahwa ada yang tidak beres<br />
dengan ku, dan ia bertanya &#8221; bunda baik &#8211; baik saja kan &#8221; tanya nya<br />
dengan penuh khawatir.</p>
<p>&#8220;aku pun menjawab, bisa memeluk dan melihat kamu kembali seperti dulu<br />
itu sudah mebuatku baik Yah&#8221; aku tak bisa bicara sekarang. Karena dia<br />
akan menikah. Aku tak mau buat diya khawatir. Dia harus khusyu menjalani<br />
acara prosesi akad nikah tersebut.<br />
************ ********* ********* ********* ********* ********* *********</p>
<p>********* ********* *</p>
<p>Setelah tiba dimasjid, ijab qabul pun dimulai. Aku duduk di sebrang<br />
suamiku.</p>
<p>Aku melihat suamiku duduk berdampingan dengan perempuan itu membuat hati<br />
ini cemburu, ingin berteriak mengatakn &#8220;Ayah Jangan&#8221; tapi aku ingat akan<br />
kondisi ku.</p>
<p>Jantung ini berdebar kencang, ketika mendengar ijab qabul tersebut.<br />
Begitu ijab qabul selesai, aku menarik napas panjang, Tante Lia, tante<br />
yang baik itu, memelukku. Dalam hati aku berusaha untuk menguatkan hati<br />
ini, ya,,aku kuat.<br />
Tak sanggup aku melihat mereka duduk bersanding di pelaminan. Orang -<br />
orang yang hadir di acara resepsi itu iba melihatku, mereka melihatku<br />
sangat aneh, wajahku yang selalu tersenyum tapi hatiku menangis.</p>
<p>Sampai dirumah, suamiku langsung masuk ke dalam rumah begitu saja, tak<br />
mencuci kaki nya. Aku sangat heran dengan prilaku nya. Apa iya, dia<br />
tidak suka dengan pernikahan ini ?</p>
<p>Sementara itu Desi sambut hangat di dalam keluarga suamiku,tak seperti<br />
aku yang di musuhinya.<br />
Malam ini aku tak bisa tidur, bagaimana bisa !! Suamiku akan tidur<br />
dengan perempuan yang sangat aku cemburui. Aku tak tau apa yang mereka<br />
lakukan didalam.</p>
<p>1/3 malam, pada saat aku ingin sholat lail aku keluar untuk berwudhu,<br />
aku melihat ada lelaki yang mirip suamiku tidur disofa ruang tengah, ku<br />
dekati lalu ku lihat&#8230;.. Masya Allah, suamiku tak tidur dengannya,ia<br />
tidur disofa, aku duduk disofa itu sambil menghelus mukanya yang lelah,<br />
tiba<br />
- tiba ia memegang tangan kiriku, tentu saja aku kaget.</p>
<p>&#8220;kamu datang ke sini, aku pun tau &#8221; ia langsung berkata seperti itu, aku<br />
tersenyum dan megajaknya sholat lail. Setelah sholat lail, ia mengatakan<br />
&#8220;maafkan aku, aku tak boleh menyakitimu, kamu menderita karena ego nya<br />
aku.<br />
Besok kita pulang ke Jakarta , biar Desi pulang denagn mama,papa Dan<br />
juga adik &#8211; adikku&#8221;</p>
<p>Aku menatapnya dengan penuh keheranan. Tapi ia langsung mengajakku untuk<br />
istirahat. Saat tidur ia memelukku sangat erat. Aku tersenyum saja,<br />
sudah lama ini tidak terjadi. Ya Allah, apakah Engkau akan menyuruh<br />
malaikat maut untuk mengambil nyawaku sekarang ini, aku telah meresakan</p>
<p>kehadirannya saat ini. Tapi masih bisakah engaku ijinkan aku untuk<br />
mersakan kehangatan dari suamiku yang telah hilang selama 2 tahun ini.<br />
Suamiku berbisik, &#8220;Bunda kok kurus ?&#8221;</p>
<p>Aku menangis dalam kebisuan. Pelukannya masih bisa aku rasakan.</p>
<p>Aku pun berkata &#8220;Ayah kenapa tidak tidur dengan Desi ?&#8221;</p>
<p>&#8221; Aku kangen sama kamu Bunda &#8221; Aku tak mau menyakitimu lagi, kamu sudah<br />
terluka oleh sikapku yang egois&#8221; Dengan lembut suamiku menjawab seperti<br />
itu.</p>
<p>Lalu suamiku berkata, &#8221; Bun, ayah minta maaf telah menelantarkan<br />
bunda&#8230;<br />
Selama ayah di Sabang, ayah dengar kalo bunda tidak tulus mencintai<br />
ayah, bunda seperti mengejar sesuatu, seperti harta ayah, dan satu lagi<br />
ayah pernah melihat sms bunda dengan mantan pacar bunda dimana isinya<br />
klo bunda gk mw berbuat seperti itu, dan seperti itu di beri tanda kutip<br />
( &#8220;seperti itu&#8221; ), ayah ingin ngomong tapi takut bunda tersinggung, dan<br />
ayah berpikir klo bunda pernah tidur dengannya sebelum bunda bertemu<br />
ayah, terus ayah dimarahi oleh keluar ayah karena ayah terlalu<br />
memanjakan bunda &#8220;<br />
Hati ini sakit ketika difitnah oleh suamiku, ketika tidak ada<br />
kepercayaan didirinya, hanya karena omongan keluarganya, yang tidak<br />
pernah melihat betapa tulusnya aku mencintai pasangan seumur hidupku<br />
ini.</p>
<p>Aku hanya menjawab &#8220;Aku sudah ceritakan itu kan Yah, akutidak pernah<br />
berzinah, dan aku mencintaimu setulus hatiku, jika aku hanya mengejar</p>
<p>hartamu, mengapa kamu, banyak lelaki yang lebih mapan darimu waktu itu<br />
Yah.<br />
Jika aku hanya mengejar hartamu, aku tak mungkin setiap hari menangis<br />
karena menderita mencintaimu.</p>
<p>Entah aku harus bahagia atau aku harus sedih karena sahabatku sendirian<br />
di kamar pengantin itu. Malam itu, aku menyelesaikan masalahku dengan<br />
suamiku dan berusaha memaafkannya beserta sikap keluaraganya juga. Karna<br />
aku tak mau mati dalam hati yang penuh denagn rasa benci..<br />
************ ********* ********* ********* ********* ********* *********</p>
<p>********* ********* *****</p>
<p>Keesokan harinya&#8230;.. &#8230;&#8230;</p>
<p>Katika aku ingin bangun untuk mengambil wudhu, kepalaku pusing, rahimku<br />
sakit sekali..aku pendarahan.. suamiku kaget&#8230;<br />
Suamiku kaget bukan main, ia langsung menggendongku.</p>
<p>Aku pun dilarikan ke rumah sakit&#8230;.</p>
<p>Jauh sekali aku mendengar suara zikir suamiku&#8230;.</p>
<p>Aku merasakan tanganku basah&#8230;</p>
<p>Ketika kubuka mata ini, kulihat wajah suamiku penuh dengan rasa<br />
kekhawatiran.</p>
<p>Ia menggenggam tanganku dengan erat.. Dan mengatakan &#8221; Bunda,,Ayah minta<br />
maaf ,,,,!!&#8221;<br />
Berapa kali ia mengucapkan hal itu. Dalam hati ku, apa ia tahu apa yang<br />
terjadi padaku.<br />
Aku berkata dengan suara yang lirih &#8221; Yah&#8230;.Bunda ingin pulang,,bunda<br />
ingin bertemu kedua orang tua bunda, anterin bunda kesana ya Yah&#8230;.&#8221;<br />
&#8220;Ayah jangan berubah lagi ya !!! Janji ya Yah&#8230; !!! Bunda sayang banget<br />
sama Ayah &#8220;<br />
Tiba &#8211; tiba saja kakiku sakit sangat sakit, sakit nya semakin keatas,<br />
kakiku sudah tak bisa bergerak lagi, aku tak kuat lagi memegang tangan</p>
<p>suamiku, kulihat wajahnya yang tampan, linangan air matanya.</p>
<p>Sebelum mata ini tertutup ku lafazkan kalimat syahadat dan ditutup<br />
denagn kalimat tahlil.<br />
\\\\\\\\\\\\ &lt;file:///\\&gt;  \\\\\\\\\ &lt;file:///\\&gt;  \\\\\\\\\<br />
&lt;file:///\\&gt;  \\\\\\\\\ &lt;file:///\\&gt;  \\\\\\\\\ &lt;file:///\\&gt;  \\\\\\\\\<br />
&lt;file:///\\&gt;  \\\\\\\\\ &lt;file:///\\&gt;  \\\\\\\\\ &lt;file:///\\&gt;  \\\\\\\\\<br />
&lt;file:///\\&gt;  \\\\\\\\\ &lt;file:///\\&gt;  \\\\\\\\\ &lt;file:///\\&gt;  \\\\\\\\\<br />
&lt;file:///\\&gt;  \\\\\\\\\ &lt;file:///\\&gt;  \\\\\\\\\ &lt;file:///\\&gt;</p>
<p>Aku bahagia melihat suamiku punya pengganti diriku</p>
<p>Aku bahagia selalu melayaninya dalam suka dan duka,,</p>
<p>Menemaninya dalam ketika ia mengalami kesulitan dari kami pacran samapai<br />
kami menikah.<br />
Aku bahagia bersuamikan dia. Dia adalah nafas ku..</p>
<p>Untuk Ibu mertuaku : &#8220;Maafkan aku telah hadir didalam kehidupan anakmu<br />
sampai aku hidup didalam hati anakmu, ketahuilah Ma, dari dulu aku<br />
selalu berdo&#8217;a agar Mama merestui hubungan kami. Mengapa engkau fitnah<br />
diriku didepan suamiku, apa engkau punya bukti nya Ma. Mengapa engkau<br />
sangat cemburu padaku Ma ? Fikri tetap milikmu Ma, aku tak pernah<br />
menyuruhnya untuk durhaka kepadamu, dari dulu aku selalu mengerti apa<br />
yang kamu inginkan dari anakmu, tapi mengapa kau benci diriku. Dengan<br />
Desi kau sangat baik tetapi dengan ku, menantumu kau bersikap<br />
sebaliknya.&#8221;<br />
************ ********* ********* ********* ********* ********* *********</p>
<p>********* ********* ********* ******</p>
<p>Setelah ku buka laptop,ku baca curhatan istriku</p>
<p>Ayah,,mengapa keluargamu sangat membenciku</p>
<p>Aku dihina oleh mereka ayah.</p>
<p>Mengapa mereka bisa baik terhadapku pada saat ada dirimu ?</p>
<p>Pernah suatu ketika, aku bertemu Dian di jalan, aku menegornya karena<br />
dia adik iparku tapi aku disambut denagn wajah ketidak sukaannya..<br />
Sangat terlihat Ayah.<br />
Tapi ketika engaku bersamaku, Dian sangat baik, sangat manis dan ia<br />
memanggilku dengan panggilan yang sangat menghormatiku. Mengapa seperti<br />
itu</p>
<p>ayah.</p>
<p>Aku tak bisa berbicara ttg ini padamu, karen aku tahu kamu pasti membela<br />
adikmu, tak ada gunanya Yah.</p>
<p>Aku diusir dari rumah sakit.</p>
<p>Aku tak boleh merawat suamiku.</p>
<p>Aku cemburu paad Desi yang sangat akrab dengan mertuaku</p>
<p>Tiap hari ia datang ke rumah sakit bersama mertuaku</p>
<p>Aku sangat marah&#8230;.</p>
<p>Jika aku membicarakn hal ini pada suamiku, ia akan pasti membela Desi<br />
dan ibunya.<br />
Aku tak mau sakit hati lagi.</p>
<p>Ya Allah kuatkan aku,,maafkan aku</p>
<p>Engkau Maha Adil.</p>
<p>Berilah keadilan ini padaku Ya Allah</p>
<p>Ayah sudah berubah, ayah sudah tak sayang lagi pada ku.</p>
<p>Aku berusaha untuk mandiri ayah, aku tak akan bermanja &#8211; manja lagi<br />
padamu.</p>
<p>Aku kuat ayah dalam kesakitan ini.</p>
<p>Lihatlah ayah, aku kuat walaupun penyakit kanker ini terus menyerangku.</p>
<p>Aku bisa melakukan ini semua sendiri ayah.</p>
<p>Besok suamiku akan menikah dengan perempuan itu</p>
<p>Perempuan yang aku benci, yang aku cemburui</p>
<p>Tapi aku tak boleh egois, ini untuk kebahagian keluarga suamiku</p>
<p>Aku harus sadar diri</p>
<p>Ayah,,sebenarnya aku tak mau diduakan olehmu</p>
<p>Mengapa harus Desi yang menjadi sahabatku ?</p>
<p>Ayah aku masih tak rela</p>
<p>Tapi aku harus ikhlas menerimanya</p>
<p>Pagi nanti suamiku melangsungkan pernikahan keduanya</p>
<p>Semoga saja aku masih punya waktu untuk melihatnya tersenyum untukku</p>
<p>Aku ingin sekali merasakan kasih sayangnya yang terakhir</p>
<p>Sebelum ajal ini menjemputku</p>
<p>Ayah&#8230;akuk kangen ayah</p>
<p>Dan kini aku telah membawamu ke orang tuamu Bun</p>
<p>Aku akan mengunjungimu sebulan sekali bersama Desi ke Pulau Kayu ini</p>
<p>Aku akan selalu membawakanmu bunga mawar yang berwana pink yang<br />
mencerminkan keceriaan hatimu yang sakit tertusuk duri.</p>
<p>Bunda tetap cantik, selalu tersenyum disaat tidur.</p>
<p>Bunda akan selalu hidup dihati ayah.</p>
<p>Bunda&#8230; Desi tak sepertimu, yang tidak pernah marah&#8230;</p>
<p>Desi sangat berbeda denganmu, ia tak pernah membersihkan telingaku,<br />
rambutku tak pernah di creambathnya, kakiku pun tak pernah dicucinya.</p>
<p>Ayah menyesal telah menelantarkanmu selama 2 tahun, kamu sakit pun aku<br />
tak perduli, dalam kesendirianmu. &#8230;<br />
Seandainya Ayah tak menelantarkan Bunda, mungkin ayah masih bisa tidur<br />
dengan belaian tangan Bunda yang halus.<br />
Sekarang Ayah sadar, bahwa ayah sangat membutuhkan bunda..</p>
<p>Bunda,,kamu wanita yang paling tegar yang pernah kutemui.</p>
<p>Aku menyesal telah asik dalam keegoanku..</p>
<p>Bunda maafkan aku. Bunda tidur tetap manis. Senyum manjamu terlihat<br />
ditidurmu yang panjang.</p>
<p>Maafkan aku , tak bisa bersikap adil dan membahagiakan mu, aku selalu<br />
mengiyakan apa kata ibuku, karena aku takut menjadi anak durhaka.<br />
Maafkan aku ketika kau di fitnah oleh keluargaku, aku percaya begitu<br />
saja.</p>
<p>Apakah Bunda akan mendapat pengganti ayah di surga sana ?</p>
<p>Apakah Bunda tetap menanti ayah disana ? Tetap setia di alam sana ?</p>
<p>Tunggulah Ayah disana Bunda&#8230;&#8230;</p>
<p>Bisakan ? Seperti Bunda menunggu ayah di sini&#8230;&#8230; Aku mohon&#8230;..<br />
&#8230;&#8230;&#8230;.. &#8230;..<br />
&#8230;&#8230;&#8230;.. &#8230;..<br />
&#8230;&#8230;&#8230;.. &#8230;.<br />
[Message clipped]</p>
<p>Sent from my BlackKedet(r) smartphone from Sinyal XL, Putus..Nyambung..<br />
Putus..Nyambung.!</p>
<p>This email and any attachments are confidential and may also be<br />
privileged.  If you are not the addressee, do not disclose, copy,<br />
circulate or in any other way use or rely on the information contained<br />
in this email or any attachments.  If received in error, notify the<br />
sender immediately and delete this email and any attachments from your<br />
system.  Emails cannot be guaranteed to be secure or error free as the<br />
message and any attachments could be intercepted, corrupted, lost,<br />
delayed, incomplete or amended.  Standard Chartered PLC and its<br />
subsidiaries do not accept liability for damage caused by this email or<br />
any attachments and may monitor email traffic.</p>
<table border="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td>Balas</td>
<td>Balas ke semuanya</td>
<td>Teruskan</td>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table border="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td>
<table border="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td>
<h3>ahmad subhan</h3>
<p>ke <strong>endanghj</strong>, <strong>Kontrol</strong>, <strong>im</strong>, <strong>pupung</strong></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</td>
<td>tunjukkan rincian 09:15 (20 jam yang lalu)</td>
<td>
<table border="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td></td>
<td>Balas</td>
<td></td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>- Perlihatkan kutipan teks -</p>
<p>Cinta itu butuh kesabaran&#8230;</p>
<p>Sampai dimanakah kita harus bersabar menanti cinta kita ???</p>
<p>************ ********* ********* ********* ********* ********* **</p>
<p>Hari itu,,,aku dengan nya berkomitmen untuk menjaga cinta kita..</p>
<p>Aku menjadi perempuan yg paling bahagia&#8230;.. .</p>
<p>Pernikahan kami sederhana tapi sangat meriah&#8230;&#8230;</p>
<p>Ia menjadi pria yang sangat romantisan pada waktu itu.</p>
<p>Menikah dengan seorang pria yang shaleh, pintar, tampan &amp; mapan pula</p>
<p>Ketika kami pacaran dia sudah sukses dalam karir nya.</p>
<p>Kami berbulan madu di tanah suci,,itu janjinya ketika kami berpacaran</p>
<p>Setelah menikah aku mengajaknya untuk umroh ke tanah suci&#8230;.</p>
<p>Aku sangat bahagia dengan nya,,diya sangat memanjakan aku&#8230;. Sangat<br />
terlihat rasa cinta dan sayangnya pada ku..</p>
<p>Banyak orang yang bilang,kami pasangan yang serasi. Sangat terlihat<br />
sekali bagaimana suamiku memanjakanku. Aku bahagia menikah dengannya.<br />
************ ********* ********* ********* ********* ********* *********</p>
<p>********* *******</p>
<p>5 Tahun sudah kami menikah, sangat tak terasa waktu berjalan, walaupun<br />
kami hanya berdua saja.<br />
Karena sampai saat ini aku belum bisa memberikannya seorang malaikat<br />
kecil di tengah keharmonisan rumah tangga kami.<br />
Karena dia anak lelaki satu &#8211; satunya dalam keluarga nya,,jadi aku harus<br />
berusaha untuk dapat meneruskan generasi nya&#8230;<br />
Alhamdulillah suamiku mendukung ku&#8230;. Ia mengaggap Allah belum<br />
mempercayai kami untuk menjaga titipan NYA.<br />
Tapi keluarga nya mulai resah,, Dari awal kami menikah ibu &amp; adiknya<br />
tidak menyukaiku,, aku sering mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan<br />
dari mereka,,tapi aku menutupi dari suami ku&#8230;&#8230;</p>
<p>didepan suami ku,,mereka sangat baik pada ku,,tapi dibelakang suami<br />
ku,,aku dihina &#8211; hina oleh mereka&#8230;<br />
Pernah suatu ketika, 1 tahun usia pernikahan kami, suamiku mengalami<br />
kecelakaan,, , mobilnya hancur</p>
<p>Alhamdulillah suami ku selamat dari maut yang hampir membuat ku menjadi<br />
seorang janda.<br />
Ia dirawat dirumah sakit,,pada saat dia belum sadarkan diri,,aku selalu<br />
menemaninya siang &amp; malam, kubacakan ayat &#8211; ayat suci Al &#8211; Qur&#8217;an,aku<br />
sibuk bolak &#8211; balik rumah sakit dan tempat aku melakukan aktivitas<br />
sosialku, aku sibuk mengurus suamiku yang sakit karean kecelakaan.</p>
<p>Ketika aku  kembali ke rumah sakit setelah dari rumah kami,,aku melihat<br />
didalam kamarnya ada ibu, adik &#8211; adiknya dan teman &#8211; teman suamiku, dan<br />
satu lagi aku melilhat seorang wanita yg sangat akrab dengan ibunya.<br />
Mereka tertawa menghibur suamiku.<br />
Alhamdulillah suamiku ternyata sudah sadar, aku menangis ketika melihat<br />
suami ku sudah sadar,,tapi aku tak boleh sedih di depannya.<br />
Kubuka pintu yg tertutup rapat itu,sambil mengatakan &#8220;Assalammu&#8217;alaikum&#8221;</p>
<p>mereka menjawab salam ku. Aku berdiam sejenak di depan pintu dan mereka<br />
semua melihatku,,, suamiku menatapku penuh manja,,mungkin ia kangen<br />
padaku karena sudah 5 hari mata nya selalu tertutup. Tangannya<br />
melambai,,mengisyar atkan aku untuk memegang tangannya yg erat. Setelah<br />
aku menghampirinya, ku cium tangannya sambil berkata<br />
&#8220;Assalammu&#8217;alaikum&#8221;, ia pun menjawab salam ku dengan suaranya yg lirih<br />
tapi penuh dengan cinta.<br />
Aku pun senyum melihat wajahnya.<br />
Ibu nya lalu berbicara sama aku &#8230;</p>
<p>&#8220;Fis, kenalakan ini Desi teman Fikri&#8221;</p>
<p>Aku teringat cerita dari suamiku bahwa teman baiknya pernah<br />
mencintainya, perempuan itu bernama Desi, dan diya sangat akrab dengan<br />
keluarga suamiku. Dan akhirnya aku bertemu dengan orangnya juga.</p>
<p>Aku pun langsung berjabat tangan dengannya, tak banyak aku biacara di<br />
dalam ruangan,,aku tak mengerti apa yg mereka bicarakan.<br />
Aku sibuk membersihkan &amp; mengobati luka &#8211; luka di kepala suamiku,,,baru<br />
sebentar aku membersihkan mukanya,,tiba &#8211; tiba adik ipar ku yg bernama<br />
Dian mengajakku keluar,ia minta ditemani ke kantin. Dan suamiku pun<br />
mengijinkannya. Aku pun menemaninya.</p>
<p>Tapi ketika di luar adik ipar ku berkata &#8221; lebih baik kau pulang saja &#8220;<br />
Ada kami yg menjaga abang disini. Kau istirahat saja. &#8220;<br />
Aku pun tak diperbolehkan berpamitan dengan suamiku dengan alasan abang<br />
harus banyak beristirahat, karena sikologisnya masih labil,, Aku<br />
berdebat dengannya mengapa aku tidak boleh pamitan pada suamiku, tapi<br />
tiba &#8211; tiba ibu mertuaku datang menghampiriku dan ia mengatakan hal yg<br />
sama, ia akan memberi alsan pada suamiku mengapa aku pulang tak pamitan<br />
pada nya, toj suamiku selalu menurut apa kata ibunya, baik ibunya salah<br />
suamiku tetap saja membenarkannya, akhirnya aku pun pergi meninggalkan<br />
rumah sakit itu dengan linangan air mata. Sejak saat itu aku tidak<br />
pernah diijinkan menjenguk suamiku sampai ia kembali dari rumah sakit.<br />
Dan aku hanya bisa menangis dlm kesendirianku. Menangis mengapa mereka<br />
sangat membenciku.<br />
************ ********* ********* ********* ********* ********* *********</p>
<p>********* *******</p>
<p>Hari itu, aku menangis tanpa sebab, yang ada di benakku aku takut<br />
kehilangannya, aku takut cintanya  dibagi denagn yang lain.  Pagi itu,<br />
pada</p>
<p>saat aku membersihakn pekarang rumah kami, suamiku memanggil ku ke taman<br />
belakang, ia baru aja selesai sarapan, ia mengajakku duduk di ayunan<br />
favorit kami, sambil melihat ikan &#8211; ikan yang bertaburan di kolam air<br />
mancur itu.<br />
Aku bertanya &#8221; Ada apa kamu memanggil ku ?&#8221;</p>
<p>Ia berkata &#8221; Besok aku akan menjenguk keluargaku di Sabang &#8220;<br />
Aku menjawab &#8221; Ia sayang aku tahu, aku sudah mengemasi barang &#8211; barang<br />
kamu di travel bag dan kamu sudah pegang tiket bukan ?&#8221;<br />
&#8220;Ya tapi aku tak akan lama disana, cuma 3 minggu aku disana, aku juga<br />
sdh lama tidak bertemu dengan keluarga besarku sejak kita menikah dan<br />
aku kan pulang dengan mama ku &#8221; Jawab nya tegas</p>
<p>&#8220;Mengapa baru bicara, aku pikir hanya seminggu saja kamu disana ?&#8221; tanya<br />
ku balik kepada nya penuh dengan rasa penasaran dan sedikit rasa kecewa<br />
karena ia baru memberitahu rencana kepulanggannya itu, padahal aku<br />
bersusah payah mencarikan tiket pesawat untuknya.<br />
&#8221; Mama minta aku yang menemani nya saat pulang nanti &#8221; jawab nya tegas</p>
<p>&#8221; Sekarang aku ingin seharian dengan kamu, karena nanti kita 3 minggu<br />
tidak bertemu, ya kan ?&#8221; lanjut nya lagi sambil memeluk ku dan mencium<br />
keningku.. Hatiku sedih, dengan keputusannya, tapi tak boleh aku<br />
tunjukkan pada nya.<br />
Bahagianya aku, dimanja dengan suami yang penuh dengan rasa sayang &amp;<br />
cintanya.</p>
<p>Walau terkadang ia bersikap kurang adil terhadapku.</p>
<p>Aku hanya bisa tersenyum saja, padahal aku ingin bersama suamiku, tapi<br />
karena keluarga nya tidak menyukaiku hanya karena mereka cemburu pada ku<br />
karena suamiku sangat sayang pada ku, aku memutuskan agar ia saja yg<br />
pergi, dan kami juga harus berhemat dalam pengeluaran anggaran rumah<br />
tangga kami.</p>
<p>Karena ini acara sakral bagi keluarganya. Jadi seluruh keluarga nya<br />
harus komplit, aku pun tak diperdulikan oleh keluarganya harus datang<br />
atau tidak, tidak hadir justru membuat mereka sangat senang, aku pun tak<br />
mau membuat riuh keluarga ini.<br />
Malam sebelum kepergiannya, aku menangis sambil membereskan keperluannya<br />
yang akan dibawa ke Sabang, ia menatapku dan menghapus airmata yang<br />
jatuh dipipiku lalu aku peluk erat dirinya, hati ini bergumam seakan<br />
terjadi sesuatu,,tapi aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku hanya<br />
bisa</p>
<p>menangis karena akan ditinggal pergi olehnya.</p>
<p>Aku tidak pernah di tinggal pergi selama ini, karena kami selalu bersama<br />
- sama kemana pun ia pergi.<br />
Apa mungkin aku sedih karena aku sendirian tidak punya teman, hanya<br />
pembantu saja teman ngobrolku.</p>
<p>Hati ini sedih akan di tinggal pergi oleh nya.</p>
<p>Sampai keesokan hari nya, aku menangis..menangisi kepergiannya.</p>
<p>Aku tak tahu mengapa sesedih ini, perasaanku tak enak, tapi aku tak<br />
boleh berburuk sangka. Aku harus percaya apada suamiku. Dia pasti akan<br />
selalu menelpon ku.</p>
<p>************ ********* ********* ********* ********* ********* *********</p>
<p>********* ********* ********</p>
<p>Berjauhan dengan suamiku, sangat tidak nyaman, aku merasa sendiri.<br />
Untunglah aku mempunyai kesibukan sebagai seorang aktivis, jadi aku tak</p>
<p>terlalu kesepian di tinggal pergi ke Sabang.</p>
<p>Saat kami berhubungan jarak jauh, komunikasi kami buruk,saat ia di sana<br />
aku pun jatuh sakit&#8230;rahimku sakit sekali seperti dililit oleh<br />
tali,,,tak tahan aku menhan rasa sakit dirahimku ini,sampai &#8211; sampai aku<br />
mengalami pendarahan,, aku dilarikan ke rumah sakit oleh adik laki -<br />
lakiku yang kebetulan menemaniku disana. Dokter memvonis aku terkena<br />
kanker mulut rahim stdium 3&#8230;. Aku menangis,,apa yang bisa aku<br />
banggakan lagi,,mertuaku akan semakin menghinaku,, ,suami ku yang malang<br />
,,yang berharap akan punya keturunan dari rahimku&#8230; Aku tak bisa<br />
memberikannya</p>
<p>keturunan. Dan aku hanya memeluk adikku.</p>
<p>Aku kangen pada suamiku, aku menunggu ia pulang,,kapan ia pulang, aku<br />
tak tahu..<br />
Sementara suamiku disana,,aku tidak tahu mengapa ia selalu marah &#8211; marah<br />
jika menelponku,, bagaimana aku akan cerita kondisiku jika ia selalu<br />
marah &#8211; marah terhadapku,,</p>
<p>Lebih baik aku tutupi dulu,,dan aku juga tak mau membuatnya khawatir<br />
selama ia berada di Sabang.<br />
Lebih baik nanti saja ketika ia sudah pulang dari Sabang, aku akan<br />
cerita pada nya.<br />
Setiap hari aku menanti suami ku pulang, hari demi hari aku hitung&#8230;.</p>
<p>Sudah 3 minggu suamiku di Sabang, malam itu ketika aku sedang melihat<br />
foto<br />
- f oto kami, ponselku berbunyi, menandakan ada sms yang masuk.<br />
Ku buka di inbox ponselku, ternayta dari suamiku yang sms, ia menulis<br />
&#8220;aku sudah beli tiket untuk pulang, aku pulang nya satu hari lagi, aku<br />
aku kabarin lagi&#8221;.</p>
<p>Hanya itu saja yang diinfokannya, aku ingin marah, tapi aku pendam saja<br />
ego yang tidak baik ini. Hari yg aku tunggu pun tiba,,aku menantinya di<br />
rumah. Sebagai seorang istri, aku pun berdandan yang cantik dan memakai<br />
parfum kesukaannya untuk menyambut suamiku pulang, dan aku akan<br />
menyelesaikan masalah komunikasi kami yg buruk akhir &#8211; akhir ini.</p>
<p>Bel pun berbunyi, kubuka kan pintu untuknya ia pun mengucap salam,<br />
sebelum masuk aku pegang tangannya ke depan teras, ia tetap berdiri, aku<br />
membungkuk untuk melepaskan sepatu, kaos kaki dan ku cuci kedua kakinya,<br />
aku tak mw ada syaithan yang masuk ke dalam rumah kami, setelah itu aku<br />
pun berdiri langsung mencium tangannya tapi apa reaksi nya &#8230;</p>
<p>Masya Allah ia tidak mencium keningku, ia langsung naik keatas, ia<br />
langsung mandi dan tidur,tanpa bertanya kabarku..<br />
Aku hanya berpikiran, mungkin dia capek. Aku pun segera merapikan bawaan<br />
nya sampai aku pun tertidur. Malam menunjukkan 1/3 malam, mengingatkan<br />
aku pada tempat  mengadu yaitu Allah, Sang Maha Pencipta.</p>
<p>Biasa nya kami selalu berjama&#8217;ah, tapi karena melihat nya tidur sangat<br />
pulas, aku tak tega membangun kannya, aku helus mukanya, aku cium kening<br />
nya, lalu aku sholat  tahajud 8 rakaat plus witir 3 raka&#8217;at.</p>
<p>************ ********* ********* ********* ********* ********* *********</p>
<p>********* ********* ***</p>
<p>Aku mendengar suara mobinya, aku terbangun lalu aku liat dia dari balkon<br />
kamar kami dia bersiap &#8211; siap untuk pergi, aku memanggil nya tapi ia tak<br />
mendengar, lalu aku langsung ambil jilbabku, aku lari dari atas ke bawah<br />
tanpa memperdulikan darah yg bercecer dari rahimku, aku mengejarnya tapi<br />
ia begitu cepat pergi,,ada apa dengan suamiku&#8230;mengapa ia sangat aneh<br />
terhadapku ?<br />
Aku tidak bisa diam begitu saja firasatku ada sesuatu.</p>
<p>Saat itu juga aku langsung menelpon kerumah mertuaku, kebetulan Dian<br />
yang angkat telpon nya, aku bercerita dan aku bertanya apa yang terjadi<br />
dengan suamiku. Dengan enteng ia menjawab &#8220;Loe pikir aja sendiri !!!&#8221;<br />
telpon pun langsung terputus.<br />
Ada apa ini ? Tanya hatiku penuh dalam kecemasan. Mengapa suamiku<br />
berubah setelah ia pulang dari kota kelahirannya. Mengapa ia tak mau<br />
berbicara padaku, apalagi memanjakan ku.</p>
<p>Semakin hari ia menjadi orang yang pendiam, seakan ia telah melepas<br />
tanggung jawabnya sebagai seorang suami, kami berbicara seperlunya saja,<br />
aku selalu di introgasinya, aku dari mana dan mengapa pulang terlambat,<br />
ia bertanya denagn nada yg keras, suamiku telah berubah.<br />
Bahkan yang membuat ku kaget, aku pernah di tuduh nya berzina dengan<br />
mantan pacarku. Ingin rasanya aku menampar suamiku yang telah menuduhku<br />
serendah itu, tapi aku selalu ingat, sebagaimana pun salahnya seorang<br />
suami, status suami tetap di atas para istri, itu yang aku pegang, aku</p>
<p>hanya berdo&#8217;a agar suamiku sadar akan prilakunya. *******</p>
<p>2 Tahun berlalu, suamiku tak berubah juga, aku menangis tiap malam,<br />
lelah menanti seperti ini, kami seperti orang asing yang baru saja<br />
kenal, kemesraan yang kami ciptakan dulu telah sirna, walaupun<br />
kondisinya tetap seperti itu, aku tetap merawatnya &amp; menyiapi segala<br />
yang ia perlukan.<br />
Penyakitku pun masih aku simpan dengan baik dan ia tak pernah bertanya<br />
obat apa yang aku minum. Kebahagiaan ku telah sirna, harapan menjadi ibu<br />
pun telah aku pendam. Aku tak tahu kapan ini semua akan berakhir.</p>
<p>Bersyukurlah, aku punya penghasilan sendiri dari aktifitasku sebagai<br />
seorang guru ngaji jadi aku tak perlu repot &#8211; repot meminta uang pada<br />
nya</p>
<p>hanya untuk pengobatan kankerku. Aku pun hanya berobat semampuku.</p>
<p>Sungguh suami yang dulu aku puja, aku banggakan sekarang telah menjadi<br />
orang asing, setiap aku tanya ia selalu meyuruhku untuk berpikir<br />
sendiri.<br />
Tiba &#8211; tiba saja malam itu, setelah makan malam selesai, suamiku<br />
memanggilku.</p>
<p>&#8220;ya ada apa Yah !&#8221; sahutku dengan memanggil nama kesayangannya &#8220;Ayah&#8221;</p>
<p>&#8220;Lusa kita siap &#8211; siap ke Sabang ya !&#8221; Jawabnya tegas</p>
<p>&#8221; Ada apa ?&#8221; Mengapa ?&#8221; sahutku penuh dengan keheranan</p>
<p>Astaghfirullah. ..suami ku yang dulu lembut menjadi kasar, diya<br />
mebentakku,, tak ada lagi diskusi anatara kami.<br />
Dia mengatakan &#8221; Kau ikut saja jgn byk tanya !!! &#8220;</p>
<p>Aku pun lalu mengemasi barang &#8211; barang yang akan dibawa ke Sabang sambil<br />
menangis,sedih karena suamiku yang tak ku kenal lagi.<br />
2 Tahun pacaran, 5 tahun kami menikah dan sudah 2 tahun pula ia menjadi<br />
orang asing buat ku. Ku lihat kamar kami yg dulu hangat penuh cinta yang<br />
dihiasi foto pernikahan kami sekarang menjadi dingin, sangat dingin dari<br />
batu es. Aku menangis dengan kebingungan ini. Ingin rasanya aku berontak<br />
tapi aku tak bisa, suamiku tak suka dengan wanita yang kasar, ngomong<br />
dengan nada tinggi, suka membanting barang &#8211; barang, dia bilang<br />
perbuatan itu menunjukkan ketidakhormatan kedapanya. Aku hanya bisa<br />
bersabar menantinya bicara dan sabar mengobati penyakitku ini sendiri.</p>
<p>************ ********* ********* ********* ********* ********* *********</p>
<p>********* ********* ********* *********</p>
<p>Kami telah sampai di Sabang, aku masih merasa lelah karena semalaman aku<br />
tidak tidur, karena terus berpikir. Keluarga besar nya telah berkumpul<br />
disana, termasuk ibu &amp; adik &#8211; adiknya, aku tidak tahu ada acara apa<br />
ini..<br />
Aku dan suamiku pun masuk ke kamar kami. Suamiku tak betah didalam kamar<br />
tua itu, ia pun keluar bergabung dengan keluarga besarnya.</p>
<p>Baru saja aku membongkar koper kami dan ingin memasukkannya ke dlm<br />
lemari tua yg berada di dekat pintu kamar, lemari tua itu telah ada<br />
sebelum suamiku lahir.</p>
<p>Tiba &#8211; tiba Tante Lia, tante yang sangat baik pada ku memanggil ku untuk<br />
segera berkumpul diruang tangah, aku pun ke ruang keluarga yag berada di<br />
tengah rumah besar itu, rumah zaman peninggalan belanda diaman langit -<br />
langit nya lebih dari 4 meter. aku duduk disamping suamiku, suamiku<br />
menunduk penuh dengan kebisuan, aku tak berani bertanya pada nya, tiba -<br />
tiba saja neneknya, orang yang dianggap paling tua dan paling berhak<br />
atas semuanya membuka pembicaraan.</p>
<p>&#8220;Baiklah,karena kalian telah berkumpul, nenek ingin bicara dengan kau<br />
Fisha ! &#8221; Nenek nya bicara sangat tegas.. Dengan sorot mata yang tajam.<br />
&#8221; Ada apa ya Nek ?&#8221; sahutku dengan penuh tanya..</p>
<p>Nenek pun menjawab &#8221; Kau telah gabung dengan keluarga kami hampir 8<br />
tahun, sampai saat ini kami tak melihat tanda &#8211; tanda kehamilan yang<br />
sempurna, sebab selama ini kau selalu keguguran !!&#8217;</p>
<p>Aku menangis, untuk inikah aku diundang ke mari, untuk dihina atau di<br />
pisahkan dengan suamiku.</p>
<p>&#8220;Sebenarnya kami sudah punya calon untuk Fikri, dari dulu, sebelum kau<br />
menikah dengannya, tapi Fikri anak yang keras kepala, tak mau di atur,<br />
dan akhirnya menikahlah ia dengaa kau.&#8221; Neneknya berbicara sangat<br />
lantang, mungkin logat orang Sabang seperti itu semua.<br />
Aku hanya bisa tersenyum dan melihat wajah suamiku yang kosong matanya.</p>
<p>&#8220;Dan aku dengar dari ibu mertua mu kau pun sudah berkenalan dengannya&#8221;<br />
Neneknya masih melanjutkan pembicaraan itu.<br />
Sedangkan suamikku hanya diam saja, tapi aku lihat air matanya. Ingin<br />
aku peluk suamiku agar ia kuat dengan semua ini, tapi aku tak punya<br />
keberanian..</p>
<p>Nenek nya masih saja berbicara panjang lebar dan yang terakhir dari<br />
pembicaraannya ialah dengan wajah yang sangat menantang ia berkata &#8221; kau<br />
mau nya gimana ? kau di madu atau diceraikan ?&#8221;</p>
<p>Masya Allah&#8230;&#8230; kuat kan hati ini, aku ingin jatuh pingsan, hati ini<br />
seakan remuk mendengar nya, hancur hati ku, mengapa keluarganya bersikap<br />
seperti ini terhadapku..</p>
<p>Aku selalu munutupi masalah ini dari kedua orang tuaku yang tinggal di<br />
pulau kayu tersebut, mereka mengira aku sangat bahagia 2 tahun<br />
belakangan ini.</p>
<p>&#8220;Fish, jawab !! &#8221; Dengan tegas Ibunya langsung memintaku untuk menjawab</p>
<p>Aku langsung memegang tangan suamiku, dengan tangan yang dingin dan<br />
gemetar aku menjawab dengan tegas&#8230;&#8230;. ..<br />
&#8221; Walaupun aku tidak bisa berdiskusi dulu dengan imamku, tapi aku dapat<br />
berdiskusi dengannya melalui bathiniah, untuk kebaikan dan masa depan<br />
keluarga ini, aku akan menyambut baik seorang wanita baru dirumah kami.&#8221;</p>
<p>Itu yang aku jawab, dengan kata lain aku rela cinta ku di bagi, pada<br />
saat itu juga suami ku memandangku dengan tetesan air mata, tapi mata ku<br />
tak sedikit pun menetes di hadapan mereka.</p>
<p>Aku lalu bertanya kepada suami ku, &#8220;Ayah siapakah yang akan menjadi<br />
sahabat ku dirumah kita nanti Yah ? &#8220;<br />
Suamiku menjawab &#8221; Dia Desi ! &#8220;</p>
<p>Aku pun langsung menarik napas dan langsung berbicara &#8221; Kapan pernikahan<br />
nya berlangsung ? Apa yang harus saya siapkan dalam pernikahan ini Nek<br />
?&#8221;</p>
<p>Ayah mertuaku menjawab &#8220;Pernikahannya 2 minggu lagi.&#8221;</p>
<p>&#8221; Baiklah kalo begitu saya akan menelpon pembantu di rumah, untuk<br />
menyuruh nya mengurus KK kami ke kelurahan besok&#8221; setelah berbicara<br />
seperti itu aku permisi untuk pamit ke kamar.</p>
<p>Tak tahan lagi, air mata ini akan turun, aku berjalan sangat cepat, aku<br />
buka pintu kamar, aku langsung duduk di tempat tidur. Ingin berteriak,<br />
tapi aku sendiri disini. Tak kuat rasanya menerima hal ini, cintaku<br />
telah dibagi,,sakit. ..diiringi akutnya penyakitku. Apakah karena ini<br />
suamiku menjadi orang yang asing selama 2 tahun belakangan ini ?</p>
<p>Aku berjalan menuju ke meja rias, ku buka jilbabku, aku bercermin sudah<br />
tidak cantikkah aku ini, ku ambil sisirku, aku menyisiri rambutku yang<br />
setiap hari rontok, ku lihat wajahku,,ternyata aku memang sudah tidak<br />
cantik lagi, rambutku sudah hampir habis, kepalaku sudah botak dibagian<br />
tengahnya.</p>
<p>Tiba &#8211; tiba pintu kamar ini terbuka, ternyata suami ku datang, ia<br />
berdiri dibelakangku, ,tak kuhapus air mata ini aku langsung<br />
memandangnya dari cermin meja rias itu.</p>
<p>Kami diam sejenak, lalu aku mulai pembicaraan &#8220;terimah kasih ayah, kamu<br />
memberi sahabat kepada ku, jadi aku tak perlu sedih lagi saat ditinggal<br />
pergi kamu nanti ! iya kan ?&#8221;</p>
<p>Suami ku mengangguk sambil melihat kepalaku tapi tak sedikitpun ia<br />
tersenyum dan bertanya knp rambutku rontok, dia hanya mengatakan jangan<br />
salah memakai shampo, dalam hati ku mengapa ia sangat cuek ? ia sudah<br />
tak memanjakan ku lagi.. Lalu dia bilang bilang &#8220;sudah malam, kita<br />
istirahat yuk &#8221; !</p>
<p>&#8220;Aku sholat isya dulu baru aku tidur&#8221; jawab ku tenaang.</p>
<p>Dalam sholat, dalam tidur aku menangis, ku hitung waktu, kapan aku akan<br />
berbagi suami dengannya. Aku pun ikut sibuk mengurusi pernikahan<br />
suamiku.<br />
Aku tak tahu kalo Desi orang Sabang juga. Sudahlah ini mungkin takdirku.</p>
<p>Aku ingin suamiku kembali seperti dulu, yang sangat memanjakan aku,<br />
diamana rasa sayang dan cintanya itu.</p>
<p>************ ********* ********* ********* ********* ********* *********</p>
<p>***</p>
<p>Malam sebelum hari pernikahan suamiku, aku menulis curahan hatiku di<br />
laptopku.</p>
<p>Di laptop aku menulis saat &#8211; saat terakhirku melihat suamiku, aku marah<br />
pada suamiku yang telah menelantarkanku. Aku menangis melihat suamiku<br />
yang tidur pulas, apa salahku sampai ia berlaku kejam kepada ku. Aku<br />
save di my document yang bertitle &#8220;Aku mencintaimu Suamiku &#8220;<br />
Hari pernikahan telah tiba, aku telah siap, tapi aku tak sanggup untuk<br />
keluar, aku berdiri didekat jendela, aku melihat matahari, mungkin aku<br />
takkan bisa melihat sinarnya lagi. Aku berdiri sangat lama,, lalu<br />
suamiku yang telah siap dengan pakaian pengantinnya masuk dan berbicara<br />
padaku.<br />
&#8220;Apakah kamu sudah siap ?&#8221;</p>
<p>Kuhapus airmata yang menetes diwajahku sambil berkata :</p>
<p>&#8220;Nanti jika ia telah sah jadi istrimu, ketika kamu membawa ia masuk ke<br />
dalam rumah ini, cucilah kaki nya sebagaimana kamu mencuci kaki ku dulu,<br />
lalu ketika kalian masuk ke dalam kamar pengantin bacakan do&#8217;a di ubun -<br />
ubunya sebagaimana yang kamu lakukan pada ku dulu lalu setelah itu&#8230;..&#8221;</p>
<p>tak sanggup aku ingin meneruskan pembicaraan ini, aku ingin menagis<br />
meledak</p>
<p>Tiba &#8211; tiba suamiku menjawab &#8220;lalu apa Bunda ?&#8221;</p>
<p>Aku kaget mendengar kata itu, yang tadinya aku menunduk,aku langsung<br />
menatapnya dengan mata yang berbinar &#8211; binar&#8230;</p>
<p>&#8220;bisa kamu ulangi apa yang kamu ucapkan barusan ?&#8221; pinta ku tuk<br />
menyakini bahwa kuping ini tidak salah mendengar.<br />
Dia mengangguk dan berkata &#8221; Baik bunda akan ayah ulangi, lalu apa bunda<br />
?&#8221;<br />
sambil ia menghelus wajah dan menghapus airmataku, dia agak sidikit<br />
membungkuk karena diya sangat tinggi, aku hanya sedada nya saja..</p>
<p>Dia tersenyum, sambil berkata &#8221; Kita liat saja nanti ya !&#8221; dia memelukku<br />
dan berkata, &#8220;bunda adalah wanita yang paling kuat yang ayah temui<br />
selain mama&#8221; lalu ia mencium keningku, aku langsung memeluk nya erat dan<br />
berkata &#8221; Ayah, apakah ini akan segera berakhir ? Ayah kemana saja ?<br />
Mengapa ayah berubah ? Aku kangen sama ayah ? Aku kangen belaian kasih<br />
sayang ayah ? Aku kangen dengan manjanya ayah ? Aku kesepian ayah ? Dan<br />
satu hal lagi yang harus ayah tau bahwa aku tidak pernah berzinah ! Dulu<br />
waktu awal kita pacaran,aku memang belum bisa melupakannya, setelah 4<br />
bulan bersama ayah baru bisa aku terima, jika yang dihadapanku itu<br />
adalah lelaki yang aku cari.&#8221; Bukan bearti aku pernah berzina ayah. Aku<br />
langsung bersujud di kakinya dan muncium kaki imamku sambil berkata &#8220;<br />
Aku minta maaf ayah telah membuatmu susah&#8221;<br />
Saat itu juga, diangkatnya badanku,ia hanya menangis.</p>
<p>Ia memelukku sangat lama, 2 tahun aku menanti dirinya kembali.</p>
<p>Tiba &#8211; tiba perutku sakit, ia menyadari bahwa ada yang tidak beres<br />
dengan ku, dan ia bertanya &#8221; bunda baik &#8211; baik saja kan &#8221; tanya nya<br />
dengan penuh khawatir.</p>
<p>&#8220;aku pun menjawab, bisa memeluk dan melihat kamu kembali seperti dulu<br />
itu sudah mebuatku baik Yah&#8221; aku tak bisa bicara sekarang. Karena dia<br />
akan menikah. Aku tak mau buat diya khawatir. Dia harus khusyu menjalani<br />
acara prosesi akad nikah tersebut.<br />
************ ********* ********* ********* ********* ********* *********</p>
<p>********* ********* *</p>
<p>Setelah tiba dimasjid, ijab qabul pun dimulai. Aku duduk di sebrang<br />
suamiku.</p>
<p>Aku melihat suamiku duduk berdampingan dengan perempuan itu membuat hati<br />
ini cemburu, ingin berteriak mengatakn &#8220;Ayah Jangan&#8221; tapi aku ingat akan<br />
kondisi ku.</p>
<p>Jantung ini berdebar kencang, ketika mendengar ijab qabul tersebut.<br />
Begitu ijab qabul selesai, aku menarik napas panjang, Tante Lia, tante<br />
yang baik itu, memelukku. Dalam hati aku berusaha untuk menguatkan hati<br />
ini, ya,,aku kuat.<br />
Tak sanggup aku melihat mereka duduk bersanding di pelaminan. Orang -<br />
orang yang hadir di acara resepsi itu iba melihatku, mereka melihatku<br />
sangat aneh, wajahku yang selalu tersenyum tapi hatiku menangis.</p>
<p>Sampai dirumah, suamiku langsung masuk ke dalam rumah begitu saja, tak<br />
mencuci kaki nya. Aku sangat heran dengan prilaku nya. Apa iya, dia<br />
tidak suka dengan pernikahan ini ?</p>
<p>Sementara itu Desi sambut hangat di dalam keluarga suamiku,tak seperti<br />
aku yang di musuhinya.<br />
Malam ini aku tak bisa tidur, bagaimana bisa !! Suamiku akan tidur<br />
dengan perempuan yang sangat aku cemburui. Aku tak tau apa yang mereka<br />
lakukan didalam.</p>
<p>1/3 malam, pada saat aku ingin sholat lail aku keluar untuk berwudhu,<br />
aku melihat ada lelaki yang mirip suamiku tidur disofa ruang tengah, ku<br />
dekati lalu ku lihat&#8230;.. Masya Allah, suamiku tak tidur dengannya,ia<br />
tidur disofa, aku duduk disofa itu sambil menghelus mukanya yang lelah,<br />
tiba<br />
- tiba ia memegang tangan kiriku, tentu saja aku kaget.</p>
<p>&#8220;kamu datang ke sini, aku pun tau &#8221; ia langsung berkata seperti itu, aku<br />
tersenyum dan megajaknya sholat lail. Setelah sholat lail, ia mengatakan<br />
&#8220;maafkan aku, aku tak boleh menyakitimu, kamu menderita karena ego nya<br />
aku.<br />
Besok kita pulang ke Jakarta , biar Desi pulang denagn mama,papa Dan<br />
juga adik &#8211; adikku&#8221;</p>
<p>Aku menatapnya dengan penuh keheranan. Tapi ia langsung mengajakku untuk<br />
istirahat. Saat tidur ia memelukku sangat erat. Aku tersenyum saja,<br />
sudah lama ini tidak terjadi. Ya Allah, apakah Engkau akan menyuruh<br />
malaikat maut untuk mengambil nyawaku sekarang ini, aku telah meresakan</p>
<p>kehadirannya saat ini. Tapi masih bisakah engaku ijinkan aku untuk<br />
mersakan kehangatan dari suamiku yang telah hilang selama 2 tahun ini.<br />
Suamiku berbisik, &#8220;Bunda kok kurus ?&#8221;</p>
<p>Aku menangis dalam kebisuan. Pelukannya masih bisa aku rasakan.</p>
<p>Aku pun berkata &#8220;Ayah kenapa tidak tidur dengan Desi ?&#8221;</p>
<p>&#8221; Aku kangen sama kamu Bunda &#8221; Aku tak mau menyakitimu lagi, kamu sudah<br />
terluka oleh sikapku yang egois&#8221; Dengan lembut suamiku menjawab seperti<br />
itu.</p>
<p>Lalu suamiku berkata, &#8221; Bun, ayah minta maaf telah menelantarkan<br />
bunda&#8230;<br />
Selama ayah di Sabang, ayah dengar kalo bunda tidak tulus mencintai<br />
ayah, bunda seperti mengejar sesuatu, seperti harta ayah, dan satu lagi<br />
ayah pernah melihat sms bunda dengan mantan pacar bunda dimana isinya<br />
klo bunda gk mw berbuat seperti itu, dan seperti itu di beri tanda kutip<br />
( &#8220;seperti itu&#8221; ), ayah ingin ngomong tapi takut bunda tersinggung, dan<br />
ayah berpikir klo bunda pernah tidur dengannya sebelum bunda bertemu<br />
ayah, terus ayah dimarahi oleh keluar ayah karena ayah terlalu<br />
memanjakan bunda &#8220;<br />
Hati ini sakit ketika difitnah oleh suamiku, ketika tidak ada<br />
kepercayaan didirinya, hanya karena omongan keluarganya, yang tidak<br />
pernah melihat betapa tulusnya aku mencintai pasangan seumur hidupku<br />
ini.</p>
<p>Aku hanya menjawab &#8220;Aku sudah ceritakan itu kan Yah, akutidak pernah<br />
berzinah, dan aku mencintaimu setulus hatiku, jika aku hanya mengejar</p>
<p>hartamu, mengapa kamu, banyak lelaki yang lebih mapan darimu waktu itu<br />
Yah.<br />
Jika aku hanya mengejar hartamu, aku tak mungkin setiap hari menangis<br />
karena menderita mencintaimu.</p>
<p>Entah aku harus bahagia atau aku harus sedih karena sahabatku sendirian<br />
di kamar pengantin itu. Malam itu, aku menyelesaikan masalahku dengan<br />
suamiku dan berusaha memaafkannya beserta sikap keluaraganya juga. Karna<br />
aku tak mau mati dalam hati yang penuh denagn rasa benci..<br />
************ ********* ********* ********* ********* ********* *********</p>
<p>********* ********* *****</p>
<p>Keesokan harinya&#8230;.. &#8230;&#8230;</p>
<p>Katika aku ingin bangun untuk mengambil wudhu, kepalaku pusing, rahimku<br />
sakit sekali..aku pendarahan.. suamiku kaget&#8230;<br />
Suamiku kaget bukan main, ia langsung menggendongku.</p>
<p>Aku pun dilarikan ke rumah sakit&#8230;.</p>
<p>Jauh sekali aku mendengar suara zikir suamiku&#8230;.</p>
<p>Aku merasakan tanganku basah&#8230;</p>
<p>Ketika kubuka mata ini, kulihat wajah suamiku penuh dengan rasa<br />
kekhawatiran.</p>
<p>Ia menggenggam tanganku dengan erat.. Dan mengatakan &#8221; Bunda,,Ayah minta<br />
maaf ,,,,!!&#8221;<br />
Berapa kali ia mengucapkan hal itu. Dalam hati ku, apa ia tahu apa yang<br />
terjadi padaku.<br />
Aku berkata dengan suara yang lirih &#8221; Yah&#8230;.Bunda ingin pulang,,bunda<br />
ingin bertemu kedua orang tua bunda, anterin bunda kesana ya Yah&#8230;.&#8221;<br />
&#8220;Ayah jangan berubah lagi ya !!! Janji ya Yah&#8230; !!! Bunda sayang banget<br />
sama Ayah &#8220;<br />
Tiba &#8211; tiba saja kakiku sakit sangat sakit, sakit nya semakin keatas,<br />
kakiku sudah tak bisa bergerak lagi, aku tak kuat lagi memegang tangan</p>
<p>suamiku, kulihat wajahnya yang tampan, linangan air matanya.</p>
<p>Sebelum mata ini tertutup ku lafazkan kalimat syahadat dan ditutup<br />
denagn kalimat tahlil.<br />
\\\\\\\\\\\\ &lt;file:///\\&gt;  \\\\\\\\\ &lt;file:///\\&gt;  \\\\\\\\\<br />
&lt;file:///\\&gt;  \\\\\\\\\ &lt;file:///\\&gt;  \\\\\\\\\ &lt;file:///\\&gt;  \\\\\\\\\<br />
&lt;file:///\\&gt;  \\\\\\\\\ &lt;file:///\\&gt;  \\\\\\\\\ &lt;file:///\\&gt;  \\\\\\\\\<br />
&lt;file:///\\&gt;  \\\\\\\\\ &lt;file:///\\&gt;  \\\\\\\\\ &lt;file:///\\&gt;  \\\\\\\\\<br />
&lt;file:///\\&gt;  \\\\\\\\\ &lt;file:///\\&gt;  \\\\\\\\\ &lt;file:///\\&gt;</p>
<p>Aku bahagia melihat suamiku punya pengganti diriku</p>
<p>Aku bahagia selalu melayaninya dalam suka dan duka,,</p>
<p>Menemaninya dalam ketika ia mengalami kesulitan dari kami pacran samapai<br />
kami menikah.<br />
Aku bahagia bersuamikan dia. Dia adalah nafas ku..</p>
<p>Untuk Ibu mertuaku : &#8220;Maafkan aku telah hadir didalam kehidupan anakmu<br />
sampai aku hidup didalam hati anakmu, ketahuilah Ma, dari dulu aku<br />
selalu berdo&#8217;a agar Mama merestui hubungan kami. Mengapa engkau fitnah<br />
diriku didepan suamiku, apa engkau punya bukti nya Ma. Mengapa engkau<br />
sangat cemburu padaku Ma ? Fikri tetap milikmu Ma, aku tak pernah<br />
menyuruhnya untuk durhaka kepadamu, dari dulu aku selalu mengerti apa<br />
yang kamu inginkan dari anakmu, tapi mengapa kau benci diriku. Dengan<br />
Desi kau sangat baik tetapi dengan ku, menantumu kau bersikap<br />
sebaliknya.&#8221;<br />
************ ********* ********* ********* ********* ********* *********</p>
<p>********* ********* ********* ******</p>
<p>Setelah ku buka laptop,ku baca curhatan istriku</p>
<p>Ayah,,mengapa keluargamu sangat membenciku</p>
<p>Aku dihina oleh mereka ayah.</p>
<p>Mengapa mereka bisa baik terhadapku pada saat ada dirimu ?</p>
<p>Pernah suatu ketika, aku bertemu Dian di jalan, aku menegornya karena<br />
dia adik iparku tapi aku disambut denagn wajah ketidak sukaannya..<br />
Sangat terlihat Ayah.<br />
Tapi ketika engaku bersamaku, Dian sangat baik, sangat manis dan ia<br />
memanggilku dengan panggilan yang sangat menghormatiku. Mengapa seperti<br />
itu</p>
<p>ayah.</p>
<p>Aku tak bisa berbicara ttg ini padamu, karen aku tahu kamu pasti membela<br />
adikmu, tak ada gunanya Yah.</p>
<p>Aku diusir dari rumah sakit.</p>
<p>Aku tak boleh merawat suamiku.</p>
<p>Aku cemburu paad Desi yang sangat akrab dengan mertuaku</p>
<p>Tiap hari ia datang ke rumah sakit bersama mertuaku</p>
<p>Aku sangat marah&#8230;.</p>
<p>Jika aku membicarakn hal ini pada suamiku, ia akan pasti membela Desi<br />
dan ibunya.<br />
Aku tak mau sakit hati lagi.</p>
<p>Ya Allah kuatkan aku,,maafkan aku</p>
<p>Engkau Maha Adil.</p>
<p>Berilah keadilan ini padaku Ya Allah</p>
<p>Ayah sudah berubah, ayah sudah tak sayang lagi pada ku.</p>
<p>Aku berusaha untuk mandiri ayah, aku tak akan bermanja &#8211; manja lagi<br />
padamu.</p>
<p>Aku kuat ayah dalam kesakitan ini.</p>
<p>Lihatlah ayah, aku kuat walaupun penyakit kanker ini terus menyerangku.</p>
<p>Aku bisa melakukan ini semua sendiri ayah.</p>
<p>Besok suamiku akan menikah dengan perempuan itu</p>
<p>Perempuan yang aku benci, yang aku cemburui</p>
<p>Tapi aku tak boleh egois, ini untuk kebahagian keluarga suamiku</p>
<p>Aku harus sadar diri</p>
<p>Ayah,,sebenarnya aku tak mau diduakan olehmu</p>
<p>Mengapa harus Desi yang menjadi sahabatku ?</p>
<p>Ayah aku masih tak rela</p>
<p>Tapi aku harus ikhlas menerimanya</p>
<p>Pagi nanti suamiku melangsungkan pernikahan keduanya</p>
<p>Semoga saja aku masih punya waktu untuk melihatnya tersenyum untukku</p>
<p>Aku ingin sekali merasakan kasih sayangnya yang terakhir</p>
<p>Sebelum ajal ini menjemputku</p>
<p>Ayah&#8230;akuk kangen ayah</p>
<p>Dan kini aku telah membawamu ke orang tuamu Bun</p>
<p>Aku akan mengunjungimu sebulan sekali bersama Desi ke Pulau Kayu ini</p>
<p>Aku akan selalu membawakanmu bunga mawar yang berwana pink yang<br />
mencerminkan keceriaan hatimu yang sakit tertusuk duri.</p>
<p>Bunda tetap cantik, selalu tersenyum disaat tidur.</p>
<p>Bunda akan selalu hidup dihati ayah.</p>
<p>Bunda&#8230; Desi tak sepertimu, yang tidak pernah marah&#8230;</p>
<p>Desi sangat berbeda denganmu, ia tak pernah membersihkan telingaku,<br />
rambutku tak pernah di creambathnya, kakiku pun tak pernah dicucinya.</p>
<p>Ayah menyesal telah menelantarkanmu selama 2 tahun, kamu sakit pun aku<br />
tak perduli, dalam kesendirianmu. &#8230;<br />
Seandainya Ayah tak menelantarkan Bunda, mungkin ayah masih bisa tidur<br />
dengan belaian tangan Bunda yang halus.<br />
Sekarang Ayah sadar, bahwa ayah sangat membutuhkan bunda..</p>
<p>Bunda,,kamu wanita yang paling tegar yang pernah kutemui.</p>
<p>Aku menyesal telah asik dalam keegoanku..</p>
<p>Bunda maafkan aku. Bunda tidur tetap manis. Senyum manjamu terlihat<br />
ditidurmu yang panjang.</p>
<p>Maafkan aku , tak bisa bersikap adil dan membahagiakan mu, aku selalu<br />
mengiyakan apa kata ibuku, karena aku takut menjadi anak durhaka.<br />
Maafkan aku ketika kau di fitnah oleh keluargaku, aku percaya begitu<br />
saja.</p>
<p>Apakah Bunda akan mendapat pengganti ayah di surga sana ?</p>
<p>Apakah Bunda tetap menanti ayah disana ? Tetap setia di alam sana ?</p>
<p>Tunggulah Ayah disana Bunda&#8230;&#8230;</p>
<p>Bisakan ? Seperti Bunda menunggu ayah di sini&#8230;&#8230; Aku mohon&#8230;..<br />
&#8230;&#8230;&#8230;.. &#8230;..<br />
&#8230;&#8230;&#8230;.. &#8230;..<br />
&#8230;&#8230;&#8230;.. &#8230;.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/banyusubhan.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/banyusubhan.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/banyusubhan.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/banyusubhan.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/banyusubhan.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/banyusubhan.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/banyusubhan.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/banyusubhan.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/banyusubhan.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/banyusubhan.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/banyusubhan.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/banyusubhan.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/banyusubhan.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/banyusubhan.wordpress.com/123/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=banyusubhan.wordpress.com&amp;blog=5481863&amp;post=123&amp;subd=banyusubhan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyusubhan.wordpress.com/2009/05/30/cinta-itu-butuh-kesabaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dc10bca5880cb5a242d3cfa7e57e0aa7?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">banyusubhan</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
